Mengapa merasa ‘connected' itu penting.

Asmarandhany
2 min readOct 13, 2020

--

Di umur gw yg sekarang ini, gw baru menyadari bahwa apa yang selama ini gw cari adalah connection. Doh. Ini bukan revelation atau apa sih, klise banget malah.

Let me share with you what I mean.

Buat gw, syarat pertama untuk gw bisa mengagumi seseorang (apakah itu kagum ngefans, kagum dalam pertemanan, kagum sama lawan jenis, kagum in general) adalah kalo gw merasa bisa relate sama orang tsb. Kalo gw bisa merasa 'connect' sama orang itu in a way.

Mungkin experience dia ada yg resonate sama gw, mungkin cara berpikirnya dia menginspirasi gw, mungkin the way they carry themselves mengajarkan gw sesuatu, etc. Yang pasti perasaan terkoneksi itu ada, dan membuat gw mengartikan atau memaknai hidup dengan cara yang sejalan dengan values atau aspirasi gw. That's when I feel the happiest, when I feel like my true self. Ga pura-pura. Ga dikendalikan sama keinginan untuk memproyeksikan image tertentu kepada orang lain.

Ya gw begini. Ini yang gw mau. Ini yang gw percaya. Ini arah kemana gw akan menuju.
Bukan apa yang orang bilang, orang mau, orang percaya, orang bilang keren, orang bilang baik, tapi apakah kesesuaian itu ada.

Gw akui banyak hubungan dengan orang lain yang gw form karena alasan-alasan yang I'm not proud of. Mungkin di atas kertas, hubungan tersebut checking a lot of boxes. Bukan karena gw merasa terkoneksi dengan orang tersebut, tapi karena gw mau terasosiasikan dengan image tertentu. Atau hubungan yang gw pertahankan lebih karena takut kehilangan. Atau hubungan yang gw jaga demi status quo. Dan banyak alasan-alasan lainnya yang memang inevitable juga.

Ga mungkinlah kita hidup tapi ga berhubungan dengan orang lain. Kita kan hidup butuh orang lain.

Lalu mengapa gw membicarakan distinction antara orang-orang yang bisa make us feel connected vs. orang-orang yang bisa amplify perasaan kepura-puraan, kenapa mesti gw bahas kalo toh kita juga tetap harus berhadapan dan berinteraksi dengan semua?

Ya, supaya kita bisa fokus energi kita ke orang-orang yang memang bisa menginspirasi kita, membuat kita mau berkembang ke arah yang lebih baik, ke arah yang memang kita mau menuju.

Kalau kita bahkan ga sadar apa yang kita mau, kemana kita mau menuju, pada akhirnya semua orang, semua interaksi, semua hubungan akan kita entertain, dan kita cenderung akan terombang ambing di tengah semua itu.

Kapal kita akan sulit berlayar di tengah ombak di laut, kalau kita ga tahu kemana angin mengarah. Only when we understand how to navigate, dan menjadikan angin sebagai leverage, kita akan membuat progress yang lebih meaningful.

Tanpa itu, kita akan mengeluarkan banyak energi dan merasa frustrasi karena terombang-ambing.

Coba sekarang tanya kepada diri sendiri, kapalmu mau berlayar kemana?

--

--

Asmarandhany
Asmarandhany

Written by Asmarandhany

INTJ. I think the best human invention is language. I'd always choose a nice dinner + wine + good convo than clubbing for a good night out.

No responses yet